Langsung ke konten utama

JELAGA RINDU UNTUK SANG IBU


Masih remang ku tatap bayangmu
Pelupuk basah menggenang setitik cercah
Semburat kelu penuh luka biru
  Telah berbaur penat di tubuhmu
  Ku tatap lekat-lekat saat kau terlelap
  Letih sudah kau gendong deritamu
  Mengayuh do'a pada sang pencipta
Pintamu setiap saat ;
Ya illahi rabbi...
Telah kulahirkan harapan dari rahimku
Ku rawat ia seperti bunga-bunga ranum di sepucuk pagi
Ku kasihinya selama sembilan bulan dalam nafasku
Ku gigit perih ini dalam-dalam, ku jerat tangisku kembali
Agar ia bisa melihatku pertama kali dalam rasa haru, harap, dan bahagia
Sempurnalah kiranya hidupku..
Ketika engkau mau memberrikanya rahmah berupa kesehatan dan keselamatan.
   Oh anakku.. pelipur luka lara
   Pelipur duka dahaga..
Ku ingin mengecupmu selalu
Dalam rinai do'a dan sholatku
Inilah ibumu nak..
Mungkin tak sesempurna ibu-ibu yang pernah kau jumpai, ibu hanya memiliki bedek
Dan kardus sekedar untuk bernaung dari kerasnya kota dan kejamnya peradaban
Ku ajarkan kau untuk menjadi anak-anak yang tegar, tabah, dan ikhlas dalam setiap
Menapaki kerikil dalam hidupmu.
Sabarlah nak..
Suatu hari, jika ibu ini sudah renta dan tak dapat mengecupmu kembali
Ibu mohon..
Tersenyumlah, untuk ibumu yang tua ini, untuk ibumu yang miskin papa ini..
Karena ibu hanya bisa menghadiahi sebungkus cinta untukmu.
teruntuk : pelipur laraku.
    Aku tertegun, dan dunia senyap..

By: Baiq Sunyi Ketika Amin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Leaflet Kebutuhan Gizi dan Nutrisi Pada Ibu Hamil

Leaflet Tanda Bahaya Pada Ibu Hamil

Persiapan untuk memperoleh hasil yang baik diperlukan ketekunan dan kerja keras.

Aku Bersyukur Tidak Menghabiskan Hidup Denganmu

Ini tentang akhir kisah setelah kebersamaan bersama seseorang, yang aku tulis pada tanggal   10 Februari 2019.             Kamu tidak akan mampu memaksakan seseorang untuk peduli kepadamu, tidak akan mampu. Tidak semua rasa harus sama Aku telaah dari hari ke hari, aku yang berusaha terlalu keras, berjuang tanpa henti. Saatnya aku mundur beberapa langkah dan mencari kesibukan yang lebih berarti.             Memang mencintai itu tanpa syarat, tetapi sampai kapan itu semua berlabuh ke tempat yang salah. Saat ini aku tidak tau apakah hatiku berlabuh pada tempat yang tepat. Ada banyak pertanyaan terus datang di kepala ku, sampai kapan aku terus saja merasa terpuruk? Aku harus keluar dari keadaan ini dan menemukan jalan yang lebih pasti. Saat ini aku menunggu, ada 18 hari lagi, aku siap untuk itu, siap dengan semua jawaban. Siap dengan semua resiko yang akan aku ...